Inyiak Baliau (Buya Lubuak Landua) Bagian 2

 

Bagian 2: Awal Kehidupan di Lubuak Landua

Menjelang waktu Zuhur, Peto Sulaiman dan keluarganya berhenti di bawah pohon besar yang rindang. Di dekatnya mengalir anak sungai kecil yang jernih. Mereka berwudu dan menunaikan shalat Zuhur serta Ashar secara jamak qashar, sebagaimana musafir.

Dari kejauhan, seorang tokoh masyarakat bernama Majo Indo memperhatikan mereka. Melihat adab dan kekhusyukan shalat Peto Sulaiman, hatinya yakin bahwa keluarga ini bukan orang sembarangan.

Majo Indo pun menghampiri dan menyapa dengan ramah. Setelah berbincang panjang dan mengetahui asal-usul serta keilmuan Peto Sulaiman, ia mengundang mereka untuk menetap di Aur Kuning. Masyarakat menerima keluarga ini dengan tangan terbuka dan menjadikannya anak kemenakan nagari.

Peto Sulaiman diberi sebidang lahan pertanian di Lariang, Jorong Lubuak Landua. Dengan gotong royong, masyarakat membangun sebuah pondok sederhana sebagai tempat tinggal mereka. Sejak saat itu, kehidupan baru dimulai.

Peto Sulaiman dikenal sebagai petani yang jujur dan alim. Banyak anak-anak belajar silat dan agama kepadanya, sementara orang-orang dewasa sering datang meminta nasihat. Pondok kecil itu perlahan menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul masyarakat.

Di tanah inilah kelak akan lahir seorang ulama besar yang namanya dikenang sepanjang masa.

Bersambung ke Bagian 3 – Salim Peto Bandaro dan Lahirnya Seorang Ulama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tukang Letta: Karamah Tukang Rumah dalam Sejarah Masjid Buya Lubuak Landua

Inyiak Baliau (Buya Lubuak Landua) Bagian 1

Inyiak Baliau (Buya Lubuak Landua) Bagian 4